Lima hal yang bisa mengeraskan hati dan lima hal yang bisa melembutkan hati serta mengobatinya.

Berkata Ibnul Qoyim Aljauziyah Rahimahullah:

وأما مفسدات القلب الخمسة فهي التي أشار إليها: من كثرة الخلطة, والتمني، والتعلق بغير الله، والشبع، والمنام، فهذه الخمسة من أكبر مفسدات القلب.

“Adapun lima hal yang merusak hati Yaitu

  1. Banyak bergaul (campur aduk dengan manusia awam dalam kejelekan pent)
  2. dan banyak berangan-angan,
  3. Tergantungnya Hati kepada selain Allah Ta’ala ,
  4. Banyak makan minum sehingga kekenyangan
  5. dan Banyak tidur. Inilah kelima hal terbesar yang dapat merusak hati”

دواء القلب خمسة أشياء قراءة القرآن بالتدبر وخلاء البطن وقيام الليل والتضرع عند السحر ومجالسة الصالحين

“Adapun lima hal yang termasuk obat kerasnya hati Yaitu :

  1. Membaca Alqur’an Alkarim dengan mentadabburinya
  2. Puasa atau Mengosongkan perut
  3. Sholat malam
  4. Mendekatkan diri di waktu sahur
  5. Berteman dengan orang-orang yang soleh.

Akhukum Fillah Ustadz abu amina حفظه الله
Dipondok Yatim Annashihah Cepu.
Dikutip Madarijus Salikin Ibnul Qoyim Aljauziyah Dan Dzammul Hawa Ibnul Jauzy Rahimakumulloh.

Ayo Bergabunghttps://t.me/pesantren_salaf_online 

Seorang istri tidak diperkenankan menerima tamu tanpa seizin suaminya.

Rumah Tangga Harmonis Ringkas

Silsilah Pergaulan dan Keharmonisan Rumah Tangga ke 2 : Seorang istri tidak diperkenankan menerima tamu tanpa seizin suaminya.

Bismillah, Ikatan pernikahan adalah ikatan yang kuat dan sakral sekali, karena itu Allah Ta’ala memberi nama pernikahan dengan nama “Al alaaqotu mitsaaqoon gholidhon= ikatan perjanjian yg kuat ” sebagaimana firman-Nya :

وَقَدْ اَفْضٰى بَعْضُكُمْ اِلٰى بَعْضٍ وَّاَخَذْنَ مِنْكُمْ مِّيْثَاقًا غَلِيْظًا

“Dan padahal kalian telah bergaul satu sama lain (sebagai suami-istri). Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kalian.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 21)

Sesungguhnya pernikahan adalah sunnah para nabi alaihim assalam dan salah satu sunah yang diajarkan nabi kita shalallahu alaihi wassalam,

Pernikahan adalah salah satu wasilah agar berkembang dan lestarinya keturunan manusia dimuka bumi ini,

Dan kehidupan berumah tangga merupakan pokok atau tonggak dasar dalam kehidupan suami istri, jika baik pergaulan suami istri ini maka akan menjadi baik perjalanan kehidupan mereka.

Rasulallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

“Orang yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya” As-Shahihah no 284 Syeikh Albaniy Rahimahullah

Beliau juga bersabda:

خَيْرُكُم ْخَيْرُكُم ْلِأَهْلِه ِوَأَنَاخَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku” As-Shahihah no 285 Syeikh Albaniy Rahimahullah

Dalam hadits ini sangat jelas sebagai ukuran baiknya serta kesempurnaan iman seseorang adalah mereka yang terbaik pergaulannya dengan keluarganya.

Maka bagi mereka yang mendambakan keluarga harmonis yang penuh sakinah ( ketenangan), mawadah ( penuh cinta ) , dan rahmat (penuh kasih sayang ) semestinya memperhatikan hak dan kewajiban masing-masingnya berikut ini :

Yang kedua :

عدم اذن الزوجة في بيت الزوح الا بإذنه

Seorang istri tidak diperkenankan mengizinkan tamu masuk kerumahnya tanpa izin suaminya ( kecuali yang biasa diizinkan suaminya)

Maka tidak pantas seorang istri memasukan siapapun kedalam rumahnya tanpa seizin suaminya , kecuali yang biasa masuk kedalam rumahnya yang itu suami telah megizinkanya seperti mahkromnya dan para wanita baik-baik yg biasa masuk rumahnya.

Rosul Sholallohu alaihi wassalam bersabda :

قال : ( لَا يَحِلُّ لِلْمَرأَةِ أَن تَصُومَ وَزَوجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذنِهِ ، وَلَاْ تَأْذَن فِي بَيتِهِ إِلاّ بِإِذنِهِ ) رواه البخاري

” Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sedang suaminya berada disisinya kecuali dengan izinya, dan tidak boleh mengizinkan seorang masuk kerumahnya tanpa izin suaminya” Riwayat Bukariy

Sehingga tidak diperkenan seorang istri dalam perkara diatas, apalagi mengizinkan orang – orang yang tidak disukai suaminya ( karena keburukan agamanya) walaupun itu saudara dekat harus minta izin suaminya.termasuk saudara laki-laki suamiya.

Yang wajib seorang istri tidak mengizikan tamu yang tidak disukai suaminya.

Kecuali yang biasa masuk rumahnya, seperti mahrom-makromya (maka wajib bagi seorang istri mengenal siapa-siapa makhromnya)

Allah Ta’ala Berfirman tentang makhrom:

وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آَبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَمَقْتًا وَسَاءَ سَبِيلًا (22) حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَ انَ غَفُورًا رَحِيمًا (23) وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ

“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina.” (QS. An Nisa’: 22-24)

Adapun detail siapa makhrom merujuklah pada Link Majalah Asysyariah dibawah ini:

http://asysyariah.com/siapa-saja-mahram-itu/

Bersambung insyallah…
Wallohu a’lam bisshowab

Akhukum Fillah Ustadz abu amina حفظه الله, Dipondok Salafiyah Annashihah Cepu, Dikutip dari Tafsir Assa’diy , Tafsir Ibnu Katsir, Kutubu Sittah, Ash-shahihah Syeikh Albaniy Rahimahumullah, Dan kesimpulan dari kitab pergaulan rumah tangga karya para ulama lainnya.

Ayo Bergabunghttps://t.me/pesantren_salaf_online

Keutamaan Persaudaraan Di Atas Keimanan

Keutamaan Persaudaraan Di Atas Keimanan

للشَّيخ د. عبد الله البخاري حفظه الله

”والله وبالله وتالله، لو لم يكن في الأخوة الإيمانية من منقبة إلا أن يظلك الله في ظله في ذلك اليوم العصيب،لكفى بهذه منقبة وكفى بها فضيلة.“

Asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari حفظه الله:

“Wallahi wa billahi wa tallahi, kalau seandainya tidak ada keutamaan lain bagi persaudaraan seiman kecuali bahwa Allah akan menaungi dalam naungan Nya di hari yang sangat berat (hari akhir), niscaya cukuplah itu sebagai keutamaan dan kebanggaan.”

جعلنا الله وإياكم إخوة في الله الذين يتحابون في جلاله

Al-Ustadz Usamah Mahri حفظه الله

Sumber:
مجموعة طريق السلف
www.thoriqussalaf.com
http://telegram.me/thoriqussalaf
Turut Menyebarkan :
https://t.me/pesantren_salaf_online

Kajian Keluarga dan Pendidikan Anak Ringkas

Kewajiban dan Keutamaan mendidik serta menafkahi anak dengan Pendidikan Islam

Bismillah, Alloh Subhanahu Wa Ta’ala telah memerintahkan Dan Rasul shalallahu alaihi wassalam telah mencontohkan kepada para orang tua (Bapak Dan Ibu) untuk mendidik anak-anaknya dengan pendidikan islam dan ini merupakan kewajiban bagi mereka .

Sebagaimana Dalam Firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim: 6)

Para ulama menafsirkan ayat ini diantaranya disebutkan :

يقول تعالى ذكره: يا أيها الذين صدقوا الله ورسوله( قُوا أَنْفُسَكُمْ ) يقول: علموا بعضكم بعضا ما تقون به من تعلمونه النار، وتدفعونها عنه إذا عمل به من طاعة الله، واعملوا بطاعة الله.
وقوله:( وَأَهْلِيكُمْ نَارًا ) يقول: وعلموا أهليكم من العمل بطاعة الله ما يقون به. أنفسهم من النار.

“Wahai orang yang benar keimanannya terhadap Allah dan Rasul-Nya, ‘Peliharalah diri kalian,’ Hendaklah satu dengan yang lain saling mengajarkan sesuatu yang membuat kalian dapat berlindung dan terhindar dari neraka, yaitu apabila mereka beramal dalam ketaatan kepada Allah.

Dan firman-Nya ‘Dan (lindungi) keluarga kalian dari neraka.’ Maksudnya adalah ajarkan keluarga kalian amal ketaatan kepada Allah yang dapat melindungi mereka dari api neraka. (Tafsir Imam Ath-Thabari)

Demikian juga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengingatkan kepada kita para orang tua untuk bersiap – siap mempertanggung jawabkan semua titipan yang telah diamanahkan kepada para orang tua beliau bersabda shallallahu alaihi wa sallam:

“كُلُّكُمْ راَعٍ وكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالرَّجُلُ راَعٍ فِيْ أَهْلِهِ وَمَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهٍ، وَالْمَرْأَةُ راَعِيَةٌ فِيْ بَيْتِ زَوْجِهاَ وَمَسْؤُوْلَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهاَ”

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang orang-orang yang kalian pimpin. Seorang bapak adalah pemimpin dalam keluarganya, dan dia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang ibu adalah pemimpin di rumah suaminya…” (HR. Bukhari)

Dengan demikian keberuntungan serta kesuksesan orang tua sangat dipengaruhi oleh kesungguhanya dalam membentuk keshalihan anaknya , demikian sebaliknya kesuksesan dan keberuntungan anak dalam mengarungi perjalanan kampung dunia ini juga sangat dipengaruhi oleh keimanan dan keshalihan orang tuanya,

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيْمَانٍ أَلْحَقْناَ بِهِمْ ذُرَّيَّتَهُمْ وَماَ أَلَتْناَهُمْ مِنْ عَمَلَهُمْ مِنْ شَيْءٍ

“Dan orang-orang yang beriman beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka QS. Ath Thuur 21

Dan Juga Firman Nya:

وَالَّذِيْنَ صَبَرُوْا ابْتِغاَءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقاَمُوْا الصَّلاَةَ وَأَنْفَقَوْا مِماَّ رَزَقْناَهُمْ سِرّاً وَعَلاَنِيَةً وَيَدْرَؤُوْنَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبىَ الدَّارِ، جَناَّتُ عَدْنٍ يَدْخُلُوْنَهاَ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آباَئِهِمْ وَأَزْواَجِهِمْ وَذُرِّياَّتِهِمْ وَالْمَلاَئِكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ باَبٍ، سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ بِماَ صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبىَ الداَّرِ

“Dan orang-orang yang sabar karena mengharap keridhaan Tuhannya, melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian harta yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi atau terang-terangnan serta menolak kejahatan dengan kebaikan. Orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), yaitu surga-surga ‘Adn. Mereka masuk ke dalamnya beserta orang-orang saleh dari nenek moyngnya, pasangan-pasangannya, dan anak sucunya. Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (simbul mengucapkan) “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.” Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.” Qs.Ar’rad 22-24

Demikian Pula rasul shallallahu alaihi wa sallam telah menyebutkan:

Abu Hurairah bahwa Rasulullah Pernah bersabda:

إذاَ ماَتَ الإنْساَنُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جاَرِيَةٍ اَوْ عَلْمٍ نُنْتَفُ بِهِ أوْ وَلَدٍ صاَلِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

“Apabila seorang manusia meninggal dunia maka seluruh amalnya terputus, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anah saleh yang mendo’akan” (HR. Muslim)

Dan juga kisah yang sangat masyur Ummul Mukminin Aisyah Radhiallohu anha bahwa “Ada seorang wanita masuk besama dua anak perempuannya seraya meminta diberi sesuatu. Akan tetapi aku tidak mendapatkan sesuatu untuk diberikan kecuali sebutir buah kurma. Aku berikan sebutir buah kurma tersebut kepadanya. Kemudian si ibu itu membaginya kepada kedua anaknya. Sementara ia sendiri tidak makan. Kemudian mereka keluar dan pergi. Ketika Nabi Sholollohu alaihi wassalam datang dan masuk kepada kami, aku beritahukan kisah ini kepadanya. Kemudian beliau berkata:

“مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَناَتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إلَيْهِن كُنَّ لَهُ سِتْراً مِنَ النّاَرِ”

“Barangsiapa yang diuji dengan mendapatkan anak peremuaan kemudian ia berbuat baik kepada mereka (dengan mendidiknya) maka anak perempuan itu akan menjadi penghalang baginya dari sentuhan api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dikutip Dari : Kitab Alquran Alkarim, Tafsir Imam Ath-Thabari, Shahih Imam Muslim Dan Imam Bukhariy , Pendidikan Anak Syeikh Muhammad Jamil Zainu Rahimakumulloh.

Wallohu Ta’ala A’lam Bishowab,

Akhukum Fillah : al Ustadz Abu Amina Aljawiy Hafidzahullah
WA Mahad Salafiyah Yatim non Yatim Annashihah Cepu

Ayo bergabung di channel telegram : http://t.me/pesantren_salaf_online

  • 1
  • 2
Didukung oleh: Islamhariini.com