Dalil Menunjukkan Bahwa Bumi Itu Bulat

Pendapat Syaikh Al-Utsaimin رحمه الله Tentang Bentuk Bumi
(Dalil Menunjukkan Bahwa Bumi Itu Bulat)

“Bagaimana menjawab pertanyaan orang yang bertanya kepada kita apakah bumi itu bulat, berdasarkan (landasan) agama?”

Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin رحمه الله menjawab, “Bumi itu bulat berdasarkan dalil Al-Qur’an, kenyataan dan ucapan ulama.

Dalil dalam Al-Qur’an adalah firman Allah Ta’ala:

يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ

“Dia (Allah) melilitkan malam pada siang dan melilitkan siang pada malam.” (Az-Zumar: 5)

• (Kata) melilitkan, sebagaimana lilitan serban (imamah). Telah sedia maklum bahwasanya malam dan siang saling bergiliran mengikuti kejadiannya pada bumi. Ini menunjukkan bahwasanya bumi itu bulat. Karena jika engkau melilitkan sesuatu pada sesuatu (menunjukkan sesuatu itu bulat). Dan bumi juga mengalami lilitan, ini menunjukkan bahwasanya bumi itu bulat.

• Adapun secara kenyataan, ini juga telah jelas. Jika seseorang terbang dari Jeddah menuju arah Barat (terus) akan keluar ke Jeddah (lagi) dari arah Timur jika lintasannya lurus. Ini adalah hal yang tidak diperselisihkan sekalipun antara dua orang.

• Sedangkan menurut ucapan ulama, mereka menjelaskan bahwasanya jika seorang di Timur meninggal ketika terbenam matahari dan orang lain (ahli warisnya, pent.) meninggal ketika terbenam matahari dan dia berada di Barat, di antara keduanya ada jarak, sesungguhnya orang yang meninggal di Barat ketika terbenam matahari, mewarisi orang yang meninggal di Timur ketika terbenam matahari. Jika ia termasuk ahli warisnya. Ini menunjukkan bumi itu bulat. Karena jika bumi itu datar, niscaya terbenam nya matahari di seluruh penjuru terjadi di saat bersamaan. Jika hal ini telah jelas, tidak mungkin bagi siapapun mengingkari nya.

• Keyakinan ini (bahwa bumi itu bulat) tidaklah bertentangan dengan firman Allah Ta’ala:

أَفَلا يَنْظُرُونَ إِلَى الإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17) وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (18) وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19) وَإِلَى الأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ

“Tidakkah mereka melihat kepada unta, bagaimana diciptakan? Dan kepada langit, bagaimana ditinggikan? Dan kepada gunung, bagaimana dipancangkan? Dan kepada bumi, bagaimana dihamparkan? (Al-Ghaasyiyah: 17-19)

• Kerana sesungguhnya bumi itu wujudnya sangat besar. Kebulatan bentuknya tidaklah dalam jarak yang berdekatan. Kerana itu yang terlihat dalam pandangan adalah datar (hamparan). Tidaklah merisaukan hati untuk tenang berdiam di atas permukaannya. Hal itu tidaklah menafikan bahawa bumi itu bulat. Kerana wujudnya sangat besar.

• Meskipun demikian, mereka (para peneliti) menjelaskan bahwasanya bumi tidaklah bulat sempurna, yang tiap ujungnya sama. Namun, bumi itu menyempit pada bagian utara dan selatan. Mereka mengatakan bahwasanya bentuk bumi itu “ellips” berbentuk telur yang menyempit pada sisi utara dan selatan-nya.” (Fataawa Nuurun alad Darb libni Utsaimin)


كيف نجاوب من سألنا عن كروية الأرض في الدين؟
فأجاب رحمه الله تعالى: الأرض كروية بدلالة القرآن والواقع وكلام أهل العلم أما دلالة القرآن فإن الله تعالى يقول (يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ) والتكوير جعل الشيء كالكور مثل كور العمامة ومن المعلوم أن الليل والنهار يتعاقبان على الأرض وهذا يقتضي أن تكون الأرض كروية لأنك إذا كورت شيئاً على شيء وكانت الأرض هي التي يتكور عليها هذا الأمر لزم أن تكون الأرض التي يتكور عليها هذا الشيء كروية وأما دلالة الواقع فإن هذا قد ثبت فإن الرجل إذا طار من جدة مثلاً متجهاً إلي الغرب خرج إلى جدة من الناحية الشرقية إذا كان على خط مستقيم وهذا شيء لا يختلف فيه اثنان وأما كلام أهل العلم فإنهم ذكروا أنه لو مات رجل بالمشرق عند غروب الشمس ومات آخر بالمغرب عند غروب الشمس وبينهما مسافة فإن من مات بالمغرب عند غروب الشمس يرث من مات بالمشرق عند غروب الشمس إذا كان من ورثته فدل هذا على أن الأرض كروية لأنها لو كانت الأرض سطحية لزم أن يكون غروب الشمس عنها من جميع الجهات في آن واحد وإذا تقرر ذلك فإنه لا يمكن لأحد إنكاره ولا يشكل على هذا قوله تعالى (أَفَلا يَنْظُرُونَ إِلَى الإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17) وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (18)
وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19) وَإِلَى الأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ) لأن الأرض كبيرة الحجم وظهور كرويتها لا يكون في المسافات القريبة فهي بحسب النظر مسطحة سطحاً لا تجد فيها شيئاً يوجب القلق على السكون عليها ولا ينافي ذلك أن تكون كروية لأن جسمها كبير جداً ولكن مع هذا ذكروا أنها ليست كروية متساوية الأطراف بل إنها منبعجة نحو الشمال والجنوب فهم يقولون إنها بيضاوية أي على شكل البيضة في انبعاجها شمالاً وجنوباً.
(فتاوى نور على الدرب لابن عثيمين )

http://binothaimeen.net/content/7371?q2=الأرض كروية

Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله

Sumber:
ll مجموعة طريق السلف ll
www.thoriqussalaf.com
http://telegram.me/thoriqussalaf
turut menyebarkan:
http://t.me/pesantren_salaf_online

Allah Ta’ala akan mengangkat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat

Mutiara Salaf Ringkas
Silsilah Keutamaan ilmu, kemuliaan dam kedudukannya ke -7 : Allah Ta’ala akan mengangkat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang diangkatnya derajat orang yang berilmu dan beriman yaitu dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu: ‘Berilah kelapangan dalam majelis’, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [ Surat Al-Mujaadilah : 11]

Berkata para ahli tafsir :

يرفع الله مكانة المؤمنين المخلصين منكم، ويرفع مكانة أهل العلم درجات كثيرة في الثواب ومراتب الرضوان،

وفي الآية تنويه بمكانة العلماء وفضلهم، ورفع درجاتهم.

“Allah Ta’la akan mengangkat kedudukan mukmin yang ikhlas diantara kalian, dan Allah akan mengangkat orang yang berilmu pada derajat yang melimpah didalam pahala dan kedudukan serta keridha’an.

” Didalam ayat ini juga terdapat adanya penyebutan kedudukan para ulama dan keutamaan mereka serta ter angkatnya derajat mereka.

Allah juga telah berfirman tentang Nabi Yusuf ‘alaihis salaam:

نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّن نَّشَاءُ ۗ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

“…Kami angkat derajat orang yang Kami kehendaki, dan diatas setiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui.” [Yusuf: 76]

Berkata Ahli Tafsir :

نرفع منازل من نشاء في الدنيا على غيره كما رفعنا منزلة يوسف

“Kami akan mengangkat kedudukan orang yang kami kehendaki didunia atas lainya sebagaimana kami telah mengangkat kedudukan nabi Yusuf ‘alaihi sallam ( yakni karena ilmu agama pent)

Demikian juga Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِـهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ.

“Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur-an beberapa kaum dan Allah pun merendahkan beberapa kaum dengannya.” (HR. Muslim no. 817, dari sahabat ‘Umar Ibnul Khattab)

Akhukum Fillah, Ustadz Abu amina حفظه الله

Dipondok Annashihah Cepu, dikutip dari Tafsir muyyssar , Shahih Muslim, Tafsir ibnu katsir rahimahumullah.

Ayo bergabung: https://t.me/pesantren_salaf_online

Silsilah Mengenal Manhaj Salafiyah ke-5

Manhaj Salaf Ringkas

Silsilah Mengenal Manhaj Salafiyah ke-5 : Apa yang dimaksudkan dengan salafiyah? siapa tokohnya? dimana pusatnya? mau mengenal lebih dekat?

Pembahasan Pertama: Penjelasan Makna As-salafiyyah secara bahasa :

Huruf sin, lam, fa`= ( سلف) adalah asal yang menunjukkan makna mendahului dan telah berlalu,

Oleh karena itu, kata salaf secara bahasa adalah yang telah mendahului dan yang telah berlalu. Sedang kata سَلَف adalah bentuk jamak dari سَالِف. Dan dalam bahasa Arab digolongakan pada bentuk jamak lainnya seperti:

أَسۡلَاف, سُلُو, سُلَّاف.

Dimutlakkan makna salaf secara bahasa yaitu : untuk setiap yang mendahuluimu dan berlalu dari kalangan kerabat dan sejenisnya.
Dan darinya firman Allah

فَجَعَلْنَـٰهُمْ سَلَفًا وَمَثَلًا لِّلْءَاخِرِينَ

“Maka Kami jadikan mereka sebagai pendahulu dan permisalan untuk orang-orang yang datang belakangan.” (QS. Az-Zukhruf: 56).

Berkata Imam Al-Baghawiy rahimahullah di dalam tafsir beliau tentang ayat diatas : “Salaf adalah siapa saja yang mendahului dari kalangan nenek moyang. Kami jadikan mereka orang-orang yang telah mendahului agar dijadikan pelajaran bagi orang-orang yang belakangan ”

Berkata Ibnu Manzhur rahimahullah : “Salaf (secara bahasa) juga berarti siapa saja yang mendahuluimu dari leluhur dan yang memiliki hubungan kekerabatan, yang mereka itu berada di atasmu dalam hal usia dan keutamaan. Oleh karena itu, generasi awal tabiin dinamakan dengan “salafu shaleh” .”

Al-Hafizh An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

فانهُ نعمَ السلفُ انَا لكِ

“Maka sesungguhnya sebaik-baik salaf bagimu adalah aku ( Rasul Salallahu ‘alaihi wassalam.”

Beliau Imam Nawawiy mengatakan :

“Salaf adalah yang telah mendahului. Sehingga maknanya: Aku mendahuluimu di depanmu, kemudian kamu datang kepadaku.”

Ini adalah makna salaf secara kontek bahasa.

Bersambung Insyallah….

Ditulis Oleh al-Ustadz Abu Amina Aljawiy حفظه الله تعالى Dipondok Yatim non Yatim Annashihah Cepu

Dikutip dari Maa hiya salafiyah Syeikh Abdulloh Albukhariy Hafidzahullah

Ayo Bergabung dengan channel  : http://t.me/pesantren_salaf_online

Jauhi Fanatik Buta dan kecondongan hati yang hanya berdasar perasaan saja tanpa didasari ilmu dan dalil.

Kajian Manhaj Ringkas

Jauhi Fanatik Buta dan kecondongan hati yg hanya berdasar perasaan saja tanpa didasari ilmu dan dalil.

Bismillah. banyak orang yang tertipu dengan perasaan dan prasangkanya belaka, dan sedikit orang yang mau menimbang dengan ilmu,  sehingga ketertarikan dengan dakwah terkadang hanya ditimbang  berdasarkan perasaan dan prasangkanya saja atau hanya melihat karena kerabat dekatnya saja. Orang orang yang seperti ini bisa terjerumus kepada taklid buta serta kesombongan diri yang menipu serta iman yang lemah lagi jahil.

✅Taqlid Buta adalah perilaku orang – orang jahiliyah yang Rosul Sholallohu alaihi wassalam telah menyelesihi mereka.

✅Taqlid secara bahasa adalah meletakkan kalung di leher. yakni menyerahkan suatu perkara kepada seseorang seolah-olah diletakkan di lehernya seperti kalung (Lisanul Arab Maktabah Syamilah )

✅ Adapun secara Istilah Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan bahwa taqlid adalah :

قَبُوْلُ قَوْلِ الْغَيْرِ مِنْ غَيْرِ حُجَّةٍ

“Menerima perkataan orang lain dengan tanpa hujjah” [Raudhatun Nazhir 205]

✅Berkata  Al Imam Muhammad Bin Abdul Wahab Rahimahullah :

إن دينهم مبني على أصول: أعظمها التقليد، فهو القاعدة الكبرى لجميع الكفار، أولهم وآخرهم،

“Sesungguhnya agama mereka yakni orang – orang jahiliyah dahulu terbangun atas beberapa pondasi dan yg paling utamanya adalah Taklid Buta, Ini merupakan kaidah besar bagi semua orang kafir sejak dulu hingga sekarang.

Diantara Bentuk Taqlid yang terlarang yang tersebar dimasyarakat:

Taklid buta kepada nenek moyang dan adat istiadat

✅Allah Ta’ala  berirman :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ قَالُوا۟ حَسْبُنَا مَا  وَجَدْنَا عَلَيْهِ ءَابَآءَنَآ ۚ أَوَلَوْ كَانَ ءَابَآؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْـًۭٔا وَلَا يَهْتَدُونَ

“Apabila dikatakan kepada mereka’Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikutiRasul’. Mereka menjawab, ‘Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kamimengerjakannya. ‘Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenekmoyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk” (AI-Maa’idah: 104)

يخبرنا الله عن حال المشركين حينما قال لهم الرسول صلى الله عليه و سلم : تعالوا إلى القرآن و توحيد الله و دعائه وحده، فقالوا يكفينا عقيدة الآباء، فرد عليهم القرآن قائلا إن آباءكم جهال لا يعلمون شيئا و لم يهتدوا إلى طريق الحق

Allah mengabarkan kepada kita  dari keadaan orang-orang musyrik, saat Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam berkata kepada mereka, “Marilah mengikuti Al-Qur’an dan mentauhidkan Allah,serta berdo’a hanya kepada Allah semata.”

Mereka kemudian menjawab, “Cukuplah bagi kami kepercayaan nenek moyang kami.” Maka Al-Qur’an membantah mereka bahwa nenek moyang mereka itu adalah bodoh, tidak mengetahui sesuatu serta tidak mendapat petunjuk kepada jalan yang benar.

Taklid dalam bermadzhab dan berpendapat :

✅Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Alqur’an) dan Rasul (Sunnah) , jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya. [An-Nisa 59]

✅Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Aku  tinggalkan pada kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama berpegang kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Hadits Riwayat Malik Shahih Lighoirihi )

✅Berkata Ibnu Abbas Rahimahulloh:

: أراهم سيهلكون ! أقول : قال النبي صلى الله عليه و سلم ، و يقولون : قال أبو بكر و عمر

(رواه أحمد و غيره)

“Aku mengira mereka akan binasa. Aku mengatakan, ‘Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, sedang mereka mengatakan, ‘Abu Bakar dan Umar berkata’.” (HR. Ahmad dan Lainya)

و قال الشاعر يُنكر على المحتجين بكلام شيوخهم أقول قال الله قال رسوله , فتجيب شيخي إنه قد قال

✅Seorang pujangga menyenandungkan syair yang mengingkari orang-orang yang berdalih dengan ucapan para syaikh mereka. Ia berkata, “Aku katakan padamu, ‘Allah berfirman, RasulNya bersabda’, lalu kamu menjawab, ‘Syaikh saya telah berkata begini begitu!

✅Al-Imam asy-Syafi’i Rahimahulloh(Madzhab Syafi’i) mengatakan:

كل مسألة صح فيها الخبر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم عند أهل النقل بخلاف ما قلت؛ فأنا راجع عنها في حياتي وبعد موتي

“Semua permasalahan yang sudah disebutkan dalam hadits yang sahih dari Rasulullah dan berbeda dengan pendapat saya, maka saya rujuk dari pendapat itu ketika saya masih hidup ataupun sudah mati.”


✅Al-Imam Malik Rahimahulloh(Madzhab Maliki) mengatakan:

إنما أنا بشر أخطئ وأصيب، فانظروا في رأيي؛ فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوه، وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه

“Saya hanyalah manusia biasa, mungkin salah dan mungkin benar. Maka perhatikanlah pendapat saya, jika sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka ambillah. Apabila tidak sesuai dengan keduanya maka tinggalkanlah.”

✅Al-Imam Abu Hanifah Rahimahulloh(Madzhab Hanafi) mengatakan:

لا يحل لأحد أن يأخذ بقولنا ما لم يعلم من أين أخذناه
وفى رواية: «حرام على مَن لم يعرف دليلي أن يفتى بكلامي «فإننا بشر، نقول القول اليوم ونرجع عنه غدًا

“Tidak halal bagi siapa pun mengambil pendapat kami tanpa mengetahui dari mana kami mengambilnya.” Dalam riwayat lain, beliau mengatakan, “Haram bagi siapa pun yang tidak mengetahui dalil yang saya pakai untuk berfatwa dengan pendapat saya. Karena sesungguhnya kami adalah manusia, perkataan yang sekarang kami ucapkan, mungkin besok kami rujuk (kami tinggalkan).”

✅Al-Imam Ahmad Bin Hambal Rahimahulloh( Madzab Hambali mengatakan):

لا تقلدني، ولا تقليد مالكًا ولا الشافعي ولا الأوزاعي ولا الثوري، وخذ من حيث أخذوا

“Janganlah kalian taklid kepada saya dan jangan taklid kepada Malik, asy-Syafi’i, al-Auza’i, ataupun (Sufyan) ats-Tsauri. Tapi ambillah (dalil) dari mana mereka mengambilnya.”

3.Taklid kepada ucapan  orang yang tidak jelas sumbernya ( Katanya-Katanya)

✅Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. [Al-Isra’ :36]

✅Rasul Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda :

«إِنَّ اللهَ يَكْرَهُ لَكُمْ: قِيْلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ»

“Sesungguhnya Allah membenci untuk kalian qiila wa qoola (katanya katanya), banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta.”
(Riwayat Imam Muslim )

✅Beliau juga bersabda:

« كَفَى بِالْمَرْءِ إثْمًا : أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ»

“Cukuplah bagi seseorang itu berdosa, jika dia menceritakan segala perkara yang dia dengar.” (HR. Muslim)

✅Imam Nawawi rahimhullah berkata:

اعْلَمْ أنَّهُ يَنْبَغِي لِكُلِّ مُكَلَّفٍ أنْ يَحْفَظَ لِسَانَهُ عَنْ جَميعِ الكَلامِ إِلاَّ كَلاَماً ظَهَرَتْ فِيهِ المَصْلَحَةُ، ومَتَى اسْتَوَى الكَلاَمُ وَتَرْكُهُ فِي المَصْلَحَةِ فالسُّنَّةُ الإمْسَاكُ عَنْهُ؛ لأَنَّهُ قَدْ يَنْجَرُّ الكَلاَمُ المُبَاحُ إِلَى حَرَامٍ أَوْ مَكْرُوهٍ.

“Ketahuilah bahwa sudah selayaknya bagi setiap orang yang mukallaf untuk menjaga lisannya dari seluruh ucapan kecuali ucapan yang tampak padanya suatu kemashlahatan. Maka kapan saja berucap dan meninggalkan ucapan itu sama kemashlahatannya, maka yang sunnah adalah menahan diri dari berucap. Dikarenakan, ucapan yang mubah terkadang mendorong kepada yang haram atau makruh.

✅Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menceritakan keadaan orang – orang kafir dan munafiq yang hanya sekedar ikut-ikutan tanpa dasar ilmu, mereka menderita dialam kubur :

فَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُولُ: لَا أَدْرِي، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ. فَيَقُولَانِ: لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ. ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَاقٍ مِنْ حَدِيدٍ بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ فَيَسْمَعُهَا مَنْ عَلَيْهَا غَيْرُ الثَّقَلَيْنِ

“Adapun orang kafir atau munafik, maka kedua malaikat tersebut bertanya kepadanya: “Apa jawabanmu tentang orang ini (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam)?” Dia mengatakan: “Aku tidak tahu. Aku mengatakan sebagaimana apa yang dikatakan orang-orang.” Maka kedua malaikat itu mengatakan: “Engkau tidak tahu? Engkau tidak membaca? ” Kemudian ia dipukul dengan palu dari besi, tepat di wajahnya. Dia lalu menjerit dengan jeritan yang sangat keras yang didengar seluruh penduduk bumi, kecuali dua golongan: Jin dan Manusia.” (Muttafaqun ‘alaih)

CATATAN UNTUK KITA SEMUA :

Ini adalah nasehat buat kita semua agar setiap orang yang beriman senantiasa mengedepankan serta mengagungkan perintah Alloh dan rosul-Nya , Dan larangan taqlid buta (bersikukuh mengekor) dengan pendapat orang yang dia cintai walaupun dari bapak-bapaknya, saudaranya, atau kyai-kyainya(ustadznya) yang mereka telah menyelisihi sunnah serta menyelisihi jalanya para ulama salaf yang kokoh lagi terpercaya dalam manhajnya. Wallohu A’lam bishshawab.

Akhukum Fillah Al Ustadz Abu Amina Aljawiy حفظه الله تعالى    
Dipondok Yatim non Yatim Annashihah Cepu

Dikutip dari Lisanul Arab, Alquran Alkarim, Raudhatun Nadhzir, Tafsir Ibnu Katsir, Shahih Imam Ahmad, Alfirqotun Najiyah. Syarah masail jahiliyah Syaikh Fauzan Rahimahumullah._

Ayo bergabung dengan : https://t.me/pesantren_salaf_online

Apa Salafiy ?

Apa Salafiy Itu? Pertemuan ke-2

Audio kajian Rutin
Bersama :
Al Ustadz Abu Amina Aljawiy حفظه الله
Pukul : 16.00 WIB – Selesai
13 Januari 2019 M
7 Jumadal Ula 1440H
Judul Kitab Maa Hiyas Salafiyah
Karya As Syaikh DR. Abdullah bin Abdurrahim Al Bukhariy حفظه الله

Tafadhol di Unduh : https://bit.ly/2U4GumV

“Tetaplah hadir di majelis ilmu syar’i (tempat pengajian) untuk meraih pahala dan barokah lebih banyak dan lebih besar, insyaAllah.”

Ayo bergabung:https://t.me/pesantren_salaf_online

Didukung oleh: Islamhariini.com