Download Kultum Ceramah Pendek : Mengingat Kematian, Khusyuk Membaca Alquran Agar Bisa Menangis Karena Takut dan Rindu Kepada Allloh Aza Wa Jalla Ustad Abu Amina Aljawiy Mahad Cepu mp3

1Kultum Jeda Radio Keutamaan Menangis Karena Takut dan Rindu Kepada Allloh Aza Wa Jalla Ustad Abu Amina Aljawiy Mahad Cepu mp3
lihat  |  download 

2Kultum Jeda Radio Orang Yang Menangis Karena Takut dan Rindu Kepada Allloh Aza Wa Jalla Akan Dinaungi Dihari Tiada Naungan dan Dijauhkan Dari Neraka Ustad Abu Amina Aljawiy Mahad Cepu mp3
lihat  |  download 

3Kultum Jeda Radio Mengingat Kematian Khusyuk Membaca Alquran Agar Bisa Menangis Karena Takut dan Rindu Kepada Allloh Aza Wa Jalla Ustad Abu Amina Aljawiy Mahad Cepu mp3
lihat  |  download 

Renungan Santri : Ketika Cahaya Datang Untuk Menyadari Kekhilafan Diri, Itulah Saat Yang Mengharukan Bagi Setiap Insan, تائب مِن ذنوب، وحافظ لكل ما قَرَّبه إلى ربه

Bismillah,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (الحشر

“Hai orang -orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan (merenung),apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok(kampung ahkirat),dan bertakwalah kepada Alloh, Sesungguhnya Alloh maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Alhasyr 18)

Saudaraku yang dirahmati Alloh, Ketika perasaan memahami kekilafan diri telah datang, ketika cahaya kebeningan hati menghampiri dan hinggap didalam hati, Teringat akan lembaran masa lalu yang kelam, teringat akan catatan catatan masa yang telah lalu yang kelam tentang sahabat-sahabat dan orang orang dekat yang pernah kita sakiti, tentang perilaku diri yang begitu sering melakukan kesalahan dan kekilafan, tentang cela dan aib diri yang belum kita mohonkan ampun, tentang bakti kepada orang tua yang belum kita sempurnakan, Dan tentang seluruh perjalanan hidup ini yang hanya diselimuti dusta, kebencian, kedengkian, keserakahan, kejahilan, dan telah begitu banyak kita torehkan dan mengoreskan catatan tinta hitam dalam sejarah dan perjalanan hidup kita.

Sungguh Kalaulah kita mau jujur terhadap diri ini , Wahai Diri , sungguh kalaupun kita mau jujur dan menyadari dari dasar hati yang terdalam betapa sering kita mengkianati segala kenikmatan yang diberikan Nya dan betapa sedikit syukur ketaatan kita kepada Nya, Tampaknya kita harus bertanya kepada diri ini kenapa hati begitu keras membatu , hingga kebenaran tak jua kita tempati,  Kenapa kita tidak takut dari satu masa yang berlalu dan berlalu kian panjang dan membuat terkunci hati dari kebenaran, Alloh Ta’ala Mengingatkan kita Semua :

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ ٱلْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌۭ مِّنْهُمْ فَٰسِقُونَ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.( Alhadid 16)

Wahai Saudaraku Yang Budiman, Mengapa diri ini begitu bodoh dan tak menyadari, padahal begitu nampak didepan hamparan kemaha perkasaan Alloh yang tak tertandingi apapun, Rasanya tak pantas diri ini mengaharap keindahan dan kebaikan hidup dan mati, dimana disisi lain kita secara tak sadar mengahadirkan kejelekan dan kemudhorotan, Rasanya tak pantas kita memohon ampunan tapi disisi lain kita hadirkan kemaksiatan dan Dosa, Rasanya tak pantas kita disebut hamba pilihan karena perintah dan larangan tak jua kita indahkan.

Takutlah wahai hati, pada suatu hari yang pada saat itu Alloh ta’ala  palingkan hati insan dari kebenaran ketika mereka berputus asa dari rahmat Alloh dan berpaling dari kebenaran Sebagaimana FirmanNya:

فَلَمَّا زَاغُوٓا۟ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمْ ۚ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ

Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik (Ash Shaft 5)

Saudaraku yang dirahmadti Alloh, Sessungguhnya setiap tapak kaki kita yang tertinggal sessungguhnya adalah saksi dari perjalanan hari demi hari , Hanya Orang orang jahil yang membiarkan hidupnya tercampakkan hari harinya tersia siakan dengan kebatilan , hanya orang orang jahil yg membiarkan waktunya tercampakan dengan kelengahan dan merugilah keduanya karena kesempatan yang diberikan oleh Alloh tak dimanfaatkan untuk kebaikan.

Diri ini sering mengira bahwa kita telah banyak mengerjakan kebaikan, kita menduga selama ini kita telah sempurna melakukan ketaatan, kita berprasangka dan merasa sudah begitu banyak menjalankan kewajiban, Akan tetapi ternyata semua itu hanyalah fatamorgana dan kesemuan, dan terkadang nampak begitu baik dalam benak dan prasangka kita, tapi begitu buruk dalam pandangan Alloh, Mengapa begini? karena ketaatan yang kita lakukan hanya ingin mendaptkan pujian, ketaatan yang kita lakukan karena ingin dilihat dan dikenal orang serta kebaikan yang kita lakukan tak diiringi dengan keihlasan niat dan jauhnya dari tuntunan( Rosul Sholollohualaihi Wassalam).

Mari kita tengok kembali nasehat Amirul Mukminin Umar Ibn Khotob Rodhiallohuanhu : 

حَاسِبُوا أنْفُسَكُم قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُا وَزِنُوْهَا قَبْلَ أَنْ تُوْزَنُوْا وَ تَزَيَّنُوا لِلعَرْضِ الأَكْبَر

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab !Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap siaplah untuk pertunjukan yang besar (dihari kiamat dihari itu kalian dihadapkan pada pemeriksaan.Tiada yang tersembunyi dari amal perbuatan kita barang satupun)” Rowahu Tirmidzi.

Saudaraku yang dirahmadti Alloh,

Mari kita bangun kembali sesuatu yang telah kita rubuhkan bersihkan akidah kita yang telah tercemar kesyirikan, Jernihkan niat dan tekat yang telah kita kotori dengan ketidakihlasan,

Mari kita manfaatkan hidup ini selama pintu nafas masih terbuka,

Mari bukalah gerbang pintu kesadaran hati nurani yang paling dalam agar mendapat petunjuk bayan dan Taufiq dari Rab semesta alam,

Mari Berbuat baiklah kita selagi masih punya kesempatan dan bertobatlah sebelum ajal menjelang,

Mari kita tegur hati kita iniyang sedang dimabukan keduniaan, mari tegur hati ini yang sedang terlena, agar tak jatuh terjerat oleh tipu rayu syaitan dan Talbis dan sihir dunia, tegurlah jiwa kita yang terombang ambing oleh arus bagaikan buih dilautan ini, dan tegurlah terus menerus sedikit saja kejelekan yang terbesit didalam ruhani ini sehingga kemulyaan dan kebahagiaan akan kita dapati karena izin rabul Izah.

Ingatlah akan wasiat Alloh Ta’ala dikala pada hari itu manusia yang bertaubat ini diberikan kenikmatan :

هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍۢ  , مَّنْ خَشِىَ ٱلرَّحْمَٰنَ بِٱلْغَيْبِ وَجَآءَ بِقَلْبٍۢ مُّنِيبٍ

ٱدْخُلُوهَا بِسَلَٰمٍۢ ۖ ذَٰلِكَ يَوْمُ ٱلْخُلُودِ , لَهُم مَّا يَشَآءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌۭ

Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya).(Yaitu) orang yang takut kepada Rob Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertobat, Masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan.Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya. (Qof 32-35)

Saudaraku, Maha suci Alloh yang maha memahami segala sesuatu yang tersembunyi. yang maha penerima taubat, tiada pujian yang pantas kita berikan melebihi pujian kepada Alloh Tabaroka Wa Ta’ala , Semoga Alloh mematrikan dan menghujamkan Kesadaran dalam hati kita yang terdalam untuk menyadari segala kekeliruan dan Semoga Alloh mengampuni kita dari kemaksiatan, Dan mari kita sambut hari ini dan Hari Depan dengan Kesyukuran kepadanNya Yaitu Kepada Dzat yang telah menciptakan kita dengan berbagai macam kenikmatan yang tak terhitung.

Subhanalloh , Semoga Alloh memberi keistiqomahan kepada hati yang telah menyadari kekilafan diri untuk berada dalam ketaatan kepada Alloh Aza Wa Jalla. Waullohua’lam Bishawab.

Akhukum Fillah,

Abu Amina Aljawiy

Ma’had Salafiyah Annashihah Cepu

 Sumber Dicopy Dari  http://abuamincepu.wordpress.com/

Renungan Santri ; Sarana Sarana Yang Menolong Supaya Bisa Meraih Kebahagian Hidup( Obat Kesedihan) الوسائل المفيدة للحياة السعيدة

Bismillah

Saudaraku  Yang Budiman,
Sesungguhnya ketenangan hati dan kesenangannya serta hilangnya rasa gundah dan resah merupakan keinginan setiap orang dan dambaan setiap diri. Karena dengan demikian akan tercapai kehidupan yang tenteram, bahagia dan sejahtera. Untuk mencapai hal-hal tersebut diperlukan sarana-sarana yang bersumber dari pemahaman Agama yang benar dan bersifat nyata dan bukan sekedar angan-angan , yang kesemuanya tidak akan dapat dicapai kecuali oleh seorang mu’min dan mempunyai keyakinan  dan amal yang mantap.

Dalam Renungan kali ini akan kami nukilkan beberapa sarana penting yang dengan izin Allah seorang muslim akan bisa menggapai kebahagiaan hidup baik di dunia maupun diakhirat kelak,  In Syaa Allohu. Tentu mewujudkanya dengan semangat , kesungguhan beramal serta sabar dan ridho dari  ketentuan Alloh Aza Wajjala.

Maka  hendaknya setiap diri merenung dan mengkoreksi sejenak sekarang :

Pertama : Sudahkah kita MENGETAHUI dan MENANAMKAN pada diri – diri kita sarana – sarana  kebahagian tersebut?

Kedua :Sudahkan kita BERSABAR MENGAMALKAN  dari  sarana – sarana  kebahagian tersebut?

Ketiga :Sudahkan kita MENYEBARKANYA DAN MENGAJARKANYA KEPADA KELUARGA, TEMAN DEKAT MAUPUN JAUH SERTA KAUM MUSLIMIN SECARA UMUM dari sarana – sarana  kebahagian tersebut , sehingga merekapun akan merasakan kebahagiaan ini?

 Saudaraku yang budiman ,dibawah ini adalah sarana-sarana untuk mencapai kebahagian hidup di Dunia dan Ahkirat Yang kami nukil  sebagaimana dijelaskan oleh Syeikh Abdurahman Ass’diy Rahimahulloh, Mari kita berlomba lomba bersama untuk memenuhi hal hal dibawah ini sehimgga kebahagiaan hakiki akan kita raih dengan izin Alloh Aza Wa Jalla,

Diantara Sarana-Sarana Yang Menolong Supaya Bisa Meraih Kebahagian Hidup Itu Adalah:

 وأعظم الأسباب لذلك وأصلها وأسهاه الإيمان والعمل الصالح *

1. Beriman dan beramal Saleh (ini adalah sebab kebahagian terbesar dan mendasar,pent )

الإحسان إلى الخلق بالقول والفعل، وأنواع المعروف*

2. Berbuat baik kepada makhluk dengan perkataan dan perbuatan dan macam-macam kebaikan lainya (ini termasuk sebab yang dapat menghilangkan keresahan dan kegundahan hati Dan Perbuatan baik ini disesuaikan dengan hak hak mahkluk,pent)

الاشتغال بعمل من الأعمال أو علم من العلوم النافعة*

3. Sibuk beramal dari amal-amal  atau ilmu yang bermanfaat(Ini termasuk hal yang dapat menghilangkan kegundahan hati yang timbul dari kegalauan jiwa karena  disibukkan oleh urusan-urusan yang memberatkanya)

اجتماع الفكر كله على الاهتمام بعمل اليوم الحاضر، وقطعه عن الاهتمام في الوقت المستقبل، وعن الحزن على الوقت الماضي*

4. Mengkonsentrasikan semua pikiran untuk mengerjakan sebuah pekerjaan pada hari ini dan menghentikan dari pemikiran-pemikiran yang akan datang serta menghentikan dari kesedihan pada waktu-waktu yang lampau.

الإكثار من ذكر الله, فإن لذلك تأثيرا عجيبا في انشراح الصدر وطمأنينته، وزوال همه وغمه*

5. Memperbanyak zikir kepada Allah ta’ala (Berzikir pengaruhnya sangat menakjubkan dalam mendatangkan kelapangan dada dan ketenangan hati, serta menghilangkan rasa resah gelisah

التحدث بنعم الله الظاهرة والباطنة *
6. Menyebut-nyebut nikmat-nikmat Allah, baik yang lahir maupun yang batin.

استعمال ما أرشد إليه النبي في الحديث الصحيح حيث قال: انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم فإنه أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم *

7. Melihat orang-orang yang berada di bawahnya dan tidak melihat orang-orang yang ada di atasnya,sebagaimana petunjuk hadits Rosul :“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan janganlah  melihat orang-orang yang berada di atas, karena sesungguhya itu lebih memungkinkan untuk tidak meremehkan nikmat-nikmat Allah atas kalian.” (Rowahu Bukhari dan Muslim).

استعمال هذا الدعاء الذي كان النبي  يدعو به: اللهم أصلح لي ديني الذي هو عصمة أمري، وأصلح لي دنياي التي فيها معاشي، وأصلح لي آخرتي التي إليها معادي، واجعل الحياة زيادة لي في كل خير، والموت راحة لي من كل شر

8. Berdoa dengan doa yang dipanjatkan Rasulullah Seperti :Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku yang merupakan pelindung perkaraku, perbaikilah bagiku duniaku yang merupakan tempat kehidupanku, perbaikilah akhiratku yang di sana tempat kembaliku, jadikanlah kehidupan ini sebagai sarana bagiku untuk menambah kebaikanku, dan kematian sebagai tempat istirahat dari segala keburukan”. (HR. Muslim).

قوة القلب وعدم انزعاجه وانفعاله للأوهام والخيالات التي تجلبها الأفكار السيئة*

9. Memantapkan hati dan tidak tenggelam pada kepanikan atau bayangan dan pikiran-pikiran buruk, ini sangat besar pengaruhnya untuk menghindari tekanan penyakit-penyakit  jiwa maupun penyakit-penyakit fisik

ومتى اعتمد القلب على الله، وتوكل عليه، ولم يستسلم للأوهام ولا ملكته الخيالات السيئة، ووثق بالله وطمع في فضله- اندفعت عنه بذلك الهموم والغموم، وزالت عنه كثير من الأسقام البدنية والقلبيةه

10.Bertawakal Kepada Alloh, Jika hati selalu bergantung kepada Allah dan bertawakkal kepada-Nya, tidak larut dalam bayang-bayang ketakutan serta pikiran-pikiran buruk diiringi bersandar kepada Allah  seraya benar-benar mengharap karunia-Nya, maka yang demikian itu akan mengusir perasaan gundah dan sedih, dan menghilangkan berbagai penyakit badan dan hati

وينبغي أيضا إذا أصابه مكروه أو خاف منه أن يقارن بين بقية النعم الحاصلة له دينية أو دنيوية، وبين ما أصابه من مكروه فعند المقارنة يتضح كثرة ما هو فيه من النعم، واضمحلال ما أصابه من المكاره

11.Membandingkan kenikmatan yang diterima dengan kesulitan yang diderita, Setiap diri selayaknya jika ditimpa kesulitan atau khawatir terhadapnya agar membandingkannya antara kenikmatan yang telah dia perolehnya baik dalam nikmat agama dan dunia dan membandingkanya dengan kesulitan yang dia alami, maka akan dia dapatkan betapa jauh lebih banyak kenikmatanya dalam dirinya daripada kesulitan dan musibah yang dia rasakan.

Demikian beberapa hal yang merupakan bagian puncak dari sarana untuk menghindar dari kesedihan yang berlarut-larut dan agar bisa menggapai kebahagiaan hidup dan mati , tinggal kita semua bagaimana bersungguh-sungguh dengan perkara-perkara  diatas.

Waollohu a’lam bisowab.

Oleh Ustadz Abu Amina Aljawiy

Dicopy dari http://abuamincepu.wordpress.com/2012/12/23/renungan-santri-sarana-sarana-yang-menolong-supaya-bisa-meraih-kebahagian-hidup

Renungan Santri : Mengingat Kematian, Cukuplah Kematian Saudara Kita Sebagai Nasehat (ذكر الموت ) Berita Kematiian Saudara Kita Yang Telah Mendahului Kita

Bismillah,

كُلُّ نَفْسٍۢ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

Allah Ta’ala berfirman: “Setiap jiwa itu akan merasakan kematian, Sesungguhnya engkau semua itu akan dicukupkan semua pahalamu nanti pada hari kiamat. Maka barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan dalam syurga, maka orang itu benar-benar memperoleh kemenangan. Dan Tidaklah kehidupan dunia ini melainkan kehidupan yang menipu.” (Ali-Imran: 185)

Saudaraku Yang Budiman, Ketika  Ada seseorang hamba tersibukan dengan keduniaan dan dia melupakan hakikat tujuan penciptaanya, maka orang -orang yang seperti ini disebut sebagai orang orang yang lalai (Ghaflah) dari hakikat kehidupanya, Dan suatu ketika dia tersentak hatinya , terperanga, guncang   dan  kaget setengah mati  ketika salah satu dari keluarganya atau saudaranya  diberitakan pergi meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya  tanpa disertai tanda tanda kematian,

MUNGKIN DIA AKAN  BERFIKIR SEJENAK  : KALAULAH YANG MATI ITU SAYA, TERUS BAGAIMANA ?BAGAIMANA KELUARGA SAYA?BAGAIMANA HARTA SAYA?BAGAIMANA BEKAL SAYA YANG SEDIKIT?BAGAIMANA DAN TERUS BAGAIMANA?Kemudian  apa yang terkesan dari orang seperti ini, dia akan merinding bulu kudunya karena pengaruh dasyatnya  kematian dan sakaratnya, dahsyatnya siksaan alam kubur, dahsyatnya fitnah hari dibangkitkan, dahsyatnya padang maksyar , dahsyatnya timbangan, Dahsyatnya Shirot, Serta Dasyatnya Neraka.

DAN MUNGKIN JIKA YANG MENINGGAL ADALAH ORANG DEKAT YG DIA SAYANGI MAKA DIA MELAKUKAN PERBUATAN PERBUATAN JAHILIYAH: MENCAKAR WAJAH, MEROBEK ROBEK BAJU, MERATAP DENGAN KERAS YANG, SEMUA ITI MELUAPKAN  GUNCANGNYA HATINYA KARENA ADANYA MUSIBAH KEMATIAN

Maka para pendahulu kita yang shalih sering menyebut orang orang yang seperti ini  adalah orang orang yang berada dalam keadaan lalai mengingat kematian dan tersentak ketika ditimpa musibah kematian, sehingga tak jarang para ahli hikmah menyebutkan orang orang seperti ini memiliki kebiasaan dalam hidupnya : MALAS BERIBADAH, SERING MENUNDA TAUBAT DAN RAKUS TERHADAP DUNIA, mereka masuk dalam firmaNya :

  إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعًۭا

Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah

وَإِذَا مَسَّهُ ٱلْخَيْرُ مَنُوعًا

dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir (Al Maarij 20-21)

Berbeda Keadaanya jika seorang yang senantiasa mengusahakan taat kepada Alloh ta’ala  kemudian diberikan cobaan dengan datangnya musibah yaitu datangnya  tanda kematian dengan sakit Dan Kalaupun ketika salah satu dari keluarganya atau saudaranya  diberitakan pergi meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya , Maka hatinya  yang halus akan tersentak dan terperanga kemudian meneteskan air mata karena kesedihan yang dialaminya, kemudian dia mengucapkan kata kata bijak yang diajarkan RosulNya, 

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌۭ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” Albaqoroh 156

Mereka pun bertawakal kepada Alloh dan Menyerahkan segala urusan kepadaNya, Kemudian Pendahulu kita yang shalih sering menyebut mereka sebagai orang orang yang banyak mengingat kematian dan sehingga tak jarang para ahli hikmah menyebutkan orang orang seperti ini memiliki kebiasaan dalam hidupnya : SEMANGAT DALAM BERIBADAH, MENYEGERAKAN TAUBAT DAN TIDAK RAKUS TERHADAP DUNIA

Sahabatku yang budiman Kita Tidak mengetahui kapan dan dimana seseorang akan meninggalkan dunia ini dan ketika kematian itu datang maka tidak bisa seseorang meminta untuk diundurkan barang sebentarpun, Maka hendaknya setiap diri menjadi hamba-hamba yang cerdas untuk mempersiapkanya mulai dari sekarang bekal bekal kematian ini,

 Alloh Ta’ala Berfirman :

 “وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۭ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًۭا ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍۢ تَمُوتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۢ ” 

“فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَـْٔخِرُونَ سَاعَةًۭ ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ”

“Seseorang itu tidak akan mengetahui apa yang akan dikerjakan pada esok harinya dan seorangpun tidak akan mengetahui pula di bumi mana ia akan mati” (Luqman: 34)”Maka apabila telah tiba waktu ajal mereka, tidaklah mereka itu dapat mengundurkannya barang sesaat dan tidak  pula memajukanya.” (an-Nahl: 61)

 

Jadi jangan sampai kita menyesal nanti sebagaimana kaum kafir dan munafiq ketika mereka menemui ajalnya mereka merengek kepada Alloh Ta’ala untuk diundurkan baran sesaat agar mereka bisa kembali kedunia dan agar bisa bersedekah dan berbuat kebaikan dengan amalan-amalan shalih . 

قال تعالى “يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَٰلُكُمْ وَلَآ أَوْلَٰدُكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ”

وَأَنفِقُوا۟ مِن مَّا رَزَقْنَٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ أَحَدَكُمُ ٱلْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍۢ قَرِيبٍۢ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا ۚ وَٱللَّهُ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai sekalian orang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu itu melalaikan engkau semua dari mengingat kepada Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh kerugian. Dan nafkahkanlah -untuk kebaikan- sebagian dari apa-apa yang Kami rezekikan kepadamu semua sebelum kematian mendatangi seseorang dari engkau semua, lalu ia berkata: “Ya Rob ku mengapa aku tidak Engkau beri tangguh barang sedikit waktu, supaya aku dapat memberikan sedekah dan aku dapat dimasukkan dalam golongan orang-orang shalih. Allah sama sekali tidak akan memberikan tangguhan waktu kepada sesuatu jiwa jikalau telah tiba ajalnya dan Allah adalah Maha Periksa perihal apa saja yang engkau semua lakukan.” (al-Munafiqun: 9-11)

Dan FirmanNya :

حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ٱرْجِعُونِ

لَعَلِّىٓ أَعْمَلُ صَٰلِحًۭا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّآ ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا ۖ وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

فَإِذَا نُفِخَ فِى ٱلصُّورِ فَلَآ أَنسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍۢ وَلَا يَتَسَآءَلُونَ

Allah Ta’ala berfirman lagi: “Sehingga dikala kematian telah tiba pada seorang diantara mereka, iapun berkatalah: “Ya Rob ku, kembalikanlah saya hidup -kedunia- supaya saya dapat mengerjakan amalan yang baik yang telah saya tinggalkan”. Janganlah begitu, Sesungguhnya perkataan itu hanyalah sekedar yang dapat ia ucapkan. Di hadapan mereka ada barzakh, dinding yang membatasi sampai hari mereka dibangkitkan. Selanjutnya, apabila ditiup sangkakala, maka pada hari itu tiada lagi pertalian -kekerabatan dan persahabatan- diantara mereka dan antara satu dengan lainnya tidak dapat saling menayakan. QS.Almukminun 99-101

Sahabat Yang Budiman, Maka Jadilah Kita semua sebagai musafir didunia ini yang sadar akan kembali kepada Alloh Ta’ala dan Akan dimintai pertanggungan jawab oleh Alloh dari semua perbuatan kita

 Rosul sholollohualaihi Wassalam Bersabda :

وعن ابن عمر رضي اللَّه عنهما قال : أَخَذَ رَسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بِمنكِبِي فَقَالَ : «كُنْ في الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَو عابرُ سَبِيلٍ » وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رضي اللَّه عنهما يقول : إِذا أَمسَيتَ، فَلا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ ، فَلا تَنْتَظِرِ المَسَاءَ ، وخذ مِن صِحَّتِكَ لَمَرَضِك وَمِن حَيَاتِكَ لمَوتِكَ » رواه البخاري 

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah  menepuk bahuku lalu bersabda: “Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah engkau itu orang gharib -orang yang berada di suatu negeri yang bukan negerinya sendiri- atau sebagai orang yang melalui jalan (Musafir).” Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata: “Jikalau engkau diwaktu sore, maka janganlah engkau menanti-nantikan waktu pagi dan jikalau engkau diwaktu pagi, janganlah engkau menanti-nantikan waktu sore -yakni untuk mengamalkan kebaikan itu hendaklah sesegera mungkin. Ambillah kesempatan sewaktu engkau dalam kondisi sehat untuk mengejar kekurangan di waktu engkau sakit dan di waktu engkau masih hidup guna bekal kematianmu.” (Riwayat Bukhari)

Lalu bagaimana supaya kita selalu sadar bahwa kita adalah orang orang yang asing yang akan meninggalkan persingghan kita ini yaitu DENGAN MEMPERBANYAK MENGINGAT KEMATIAN DAN MENJADIKAN KEMATIAN SAUDARA KITA SEBAGAI NASEHAT BUAT KITA “

Sebagaimana Perintah Rosul Sholollohualaihi Wassalam :

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ » يَعني المَوْتَ ، رواه الترمذي وقال : حديثٌ حسنٌ .

“Perbanyaklah olehmu semua akan mengingat-ingat kepada pemutus segala macam kelezatan yaitu kematian. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi hadits hasan.

Salaf Kita mengatakan:

كَفَى بِالْمَوْتِ  وَاعِظًا

“Cukuplah Kematian Sebagai Pemberi Peringatan” (Lihat Shifah ash-Shafwah)

 

Semoga Alloh Ta’ala melembutkan Qolbu kita semua setelah adanya peringayan ini dan menjadikan kita semua hamba yang selalu mempersiapkan bekal kematian dengan bersungguh-sungguh dengan apa yang bermanfaat untuknya.

Wallohu A’lam Bishowab

———————————————–

   Maroji’

Pengalaman Saudara Yang Melihat Saudaranya Meninggal Mendadak, Kitab Syarah Riyadhus Shalihin  Syeikh Utsaimin Dan Kitab Siar Alam Nubala Imam Dzahabiy , Shahih Bukariy Muslim, Shahih Imam Tirmidzi Rahimakumulloh, Lihat Shifah Ash Shafwah.

Renungan Santri: Suasana Hati Menjelang Bulan Suci Ramadhan Yang Diberkahi رَنَا إِلَى رمضان

Bismillahirohmanirahim,

وَأَن تَصُومُوا خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 184)

Saudaraku yang budiman dan ana cintai karena Alloh Aza Wajal, Semoga di ahkir bulan sya’ban ini kita disampaikan beberapa hari lagi menuju bulan yang penuh berkah, yang denganya Allohu aza Wajal menghendaki kebaikan pada kaum muslimin untuk dikaruniai berlimpah berkah dan keutamaan-keutamaan dibulan tersebut

Saudaraku yang budiman, pada tulisan kali ini kita akan mengkonsentrasikan hati ini untuk merenung sejenak sambil memuja-muji Allohu Aza Wajal dengan ringanya ucapan lisan dan beratnya timbangan kalimat thoyibah( kalimat yang diajarkan Alloh) untuk memersiapkan diri ini menuju hakikat yang akan dicapai pada bulan Ramadhan yang penuh berkah tersebut, yang tidak setiap diri dikehendaki bertemu dengan bulan yang berkah ini, yang tak setiap diri bisa memahami hakikat dari bulan yang kita bahas ini, dan yang tak setiap diri merasa gembira dan merindukan bulan yang berkah ini, betapa benar sesungguhnya barang siapa yang disesatkan Alloh tiada yang bisa memahamkan apa arti keberkahan dalam bulan yang mulia ini, dan barokallohufiekum Alloh menghendaki kepada hamba yang merindukanya sebagai suatu kenikmatan yang tak bisa dirasakan oleh hati-hati para pecinta kedunyaan atau hati- hati yang lalai untuk merenung menghitung diri, atau mungkin hati-hati yang dirundung kesibukan dan kegalauan karena kecintaan selain Allohu aza Wajal.

Allohu Aza Wajal Memberi peringatan yang peringatan itu hanya bermanfaat hanya bagi kaum mukminin dan inilah kita sedang mengingatnya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Qs.Al Hasyr 18)

Dimana perenungan dan perhatian ini tiada bermanfaat kecuali memperhatikan sebaik baik bekal yaitu keyakinan dan amal shalih yang semua berdasar pada ketaatan kepada-Nya dan Itiba’ Kepada RosulNya, Sebagaimana Firman-Nya:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِي يَا أُوْلِي الأَلْبَابِ

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. Albaqarah 197

Saudaraku yang budiman,

Hendaklah setiap diri merenung, dan hendaklah setiap diri menghisab, hendaklah setiap diri menimbang serta meneliti dengan kesadaran yang penuh , meneliti dengan kekhusyukan yang tak ada campur aduk dengan riuhnya gejolak jiwa karena terpaku kepada dunia yang sering menipu setiap mahkluk. akan tetapi kekusyukan yang kami maksud ini begitu gamblang bak melihat dengan penglihatan disiang bolong dengan penglihatan bashiroh bahwa Allohu aza wajal sedang mengawasi dari setiap gemuruh hati kita, dari setiap gerak lisan kita, dan dari setiap tingkah anasir tubuh kita.

Hati kita mememdam berbagai gejolak, lisan kita mengkekang dari berbagai teriak dan tubuh kita berlahan tenang dari berbagai gerak, yang kesemuanya itu karena ketaatan dan fahamnya diri ini akan kekurangan dan bangkrutnya modal untuk bekal menuju kubur kita, yang disana kita hanya berteman kain putih yang akan rusak, disana yang hanya akan tinggal dipembaringan berukuran sempit menghimpit, semua berbaring kaku tiada daya sedikitpun yang bisa menghantarkan kepada Rumah megah duniamu, Tiada daya sedikitpun untuk menghantarkan pada Mobil mewah tungganganmu, apa lagi kepada tempat tidur empukmu. Semua akan sempitkan sebagaimana amalnya dan semua akan diluaskan sebagaimana amalnya.

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,

Sampai kamu masuk ke dalam kubur,

Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),

dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui,

Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin (Qs. Attakaasur 1-5)

Saudaraku yang budiman,

Marilah kita menghitung dan terus menghitung sembari menegaskan pada jiwa dan jasmanimu untuk memahami bahwa sesungguhnya Alloh selalu mengawasi dari gerak setiap diri. maka inilah yang dijelaskan oleh para pendahulumu ( Salaf ) dengan perkataan “Muhasabah” dan Perkataan “Muroqobah” yang keduanya merupakan perwujudan dari pertanyaan Jibril tentang “Ihksan” yang tak sembarang insan bisa terkiaskan dengan pemahamanya kecuali dengan penjelasanya yang terang dari Tauladan tercinta dengan sabdanya :

قال : فأخبرني عن الإحسان , قال ” أن تعبد الله كأنك تراه , فإن لم تكن تراه فإنه يراك “

Beritahukan kepadaku tentang Ihsan” Rasulullah menjawab,”Engkau beribadah kepada Alloh seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu”

Semoga Allohu Aza Wajal menjadikan kita semua hamba yang senantiasa Muhasabah Diri dan Muroqobah disetiap perjalanan musafir dunia ini, sehingga  ketakwaan akan kita capai dengan pertolongan dari-Nya dan hakikat kebahagian kan dirasakan para pelaku ibadah dibulan ramadhan kali ini, Sbagaimana Firmanya :

فَمَنِ اتَّقَى وَأَصْلَحَ فَلاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُونَ

“Maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (Al-A’raf: 35)

Insyalloh, Allohua’lam bishowab.

Abu Amina Aljawiy

Maroji’ Kitab Tafsir Assadiy dan Syarah Arba’in Nawawy Syeikh Utsaimin Rahimakumulloh

Didukung oleh: Islamhariini.com