Bagikan Ini:

Kajian Manhaj Ringkas

Jauhi Fanatik Buta dan kecondongan hati yg hanya berdasar perasaan saja tanpa didasari ilmu dan dalil.

Bismillah. banyak orang yang tertipu dengan perasaan dan prasangkanya belaka, dan sedikit orang yang mau menimbang dengan ilmu,  sehingga ketertarikan dengan dakwah terkadang hanya ditimbang  berdasarkan perasaan dan prasangkanya saja atau hanya melihat karena kerabat dekatnya saja. Orang orang yang seperti ini bisa terjerumus kepada taklid buta serta kesombongan diri yang menipu serta iman yang lemah lagi jahil.

✅Taqlid Buta adalah perilaku orang – orang jahiliyah yang Rosul Sholallohu alaihi wassalam telah menyelesihi mereka.

✅Taqlid secara bahasa adalah meletakkan kalung di leher. yakni menyerahkan suatu perkara kepada seseorang seolah-olah diletakkan di lehernya seperti kalung (Lisanul Arab Maktabah Syamilah )

✅ Adapun secara Istilah Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan bahwa taqlid adalah :

قَبُوْلُ قَوْلِ الْغَيْرِ مِنْ غَيْرِ حُجَّةٍ

“Menerima perkataan orang lain dengan tanpa hujjah” [Raudhatun Nazhir 205]

✅Berkata  Al Imam Muhammad Bin Abdul Wahab Rahimahullah :

إن دينهم مبني على أصول: أعظمها التقليد، فهو القاعدة الكبرى لجميع الكفار، أولهم وآخرهم،

“Sesungguhnya agama mereka yakni orang – orang jahiliyah dahulu terbangun atas beberapa pondasi dan yg paling utamanya adalah Taklid Buta, Ini merupakan kaidah besar bagi semua orang kafir sejak dulu hingga sekarang.

Diantara Bentuk Taqlid yang terlarang yang tersebar dimasyarakat:

Taklid buta kepada nenek moyang dan adat istiadat

✅Allah Ta’ala  berirman :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ قَالُوا۟ حَسْبُنَا مَا  وَجَدْنَا عَلَيْهِ ءَابَآءَنَآ ۚ أَوَلَوْ كَانَ ءَابَآؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْـًۭٔا وَلَا يَهْتَدُونَ

“Apabila dikatakan kepada mereka’Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikutiRasul’. Mereka menjawab, ‘Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kamimengerjakannya. ‘Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenekmoyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk” (AI-Maa’idah: 104)

يخبرنا الله عن حال المشركين حينما قال لهم الرسول صلى الله عليه و سلم : تعالوا إلى القرآن و توحيد الله و دعائه وحده، فقالوا يكفينا عقيدة الآباء، فرد عليهم القرآن قائلا إن آباءكم جهال لا يعلمون شيئا و لم يهتدوا إلى طريق الحق

Allah mengabarkan kepada kita  dari keadaan orang-orang musyrik, saat Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam berkata kepada mereka, “Marilah mengikuti Al-Qur’an dan mentauhidkan Allah,serta berdo’a hanya kepada Allah semata.”

Mereka kemudian menjawab, “Cukuplah bagi kami kepercayaan nenek moyang kami.” Maka Al-Qur’an membantah mereka bahwa nenek moyang mereka itu adalah bodoh, tidak mengetahui sesuatu serta tidak mendapat petunjuk kepada jalan yang benar.

Taklid dalam bermadzhab dan berpendapat :

✅Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Alqur’an) dan Rasul (Sunnah) , jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya. [An-Nisa 59]

✅Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Aku  tinggalkan pada kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama berpegang kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Hadits Riwayat Malik Shahih Lighoirihi )

✅Berkata Ibnu Abbas Rahimahulloh:

: أراهم سيهلكون ! أقول : قال النبي صلى الله عليه و سلم ، و يقولون : قال أبو بكر و عمر

(رواه أحمد و غيره)

“Aku mengira mereka akan binasa. Aku mengatakan, ‘Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, sedang mereka mengatakan, ‘Abu Bakar dan Umar berkata’.” (HR. Ahmad dan Lainya)

و قال الشاعر يُنكر على المحتجين بكلام شيوخهم أقول قال الله قال رسوله , فتجيب شيخي إنه قد قال

✅Seorang pujangga menyenandungkan syair yang mengingkari orang-orang yang berdalih dengan ucapan para syaikh mereka. Ia berkata, “Aku katakan padamu, ‘Allah berfirman, RasulNya bersabda’, lalu kamu menjawab, ‘Syaikh saya telah berkata begini begitu!

✅Al-Imam asy-Syafi’i Rahimahulloh(Madzhab Syafi’i) mengatakan:

كل مسألة صح فيها الخبر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم عند أهل النقل بخلاف ما قلت؛ فأنا راجع عنها في حياتي وبعد موتي

“Semua permasalahan yang sudah disebutkan dalam hadits yang sahih dari Rasulullah dan berbeda dengan pendapat saya, maka saya rujuk dari pendapat itu ketika saya masih hidup ataupun sudah mati.”


✅Al-Imam Malik Rahimahulloh(Madzhab Maliki) mengatakan:

إنما أنا بشر أخطئ وأصيب، فانظروا في رأيي؛ فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوه، وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه

“Saya hanyalah manusia biasa, mungkin salah dan mungkin benar. Maka perhatikanlah pendapat saya, jika sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka ambillah. Apabila tidak sesuai dengan keduanya maka tinggalkanlah.”

✅Al-Imam Abu Hanifah Rahimahulloh(Madzhab Hanafi) mengatakan:

لا يحل لأحد أن يأخذ بقولنا ما لم يعلم من أين أخذناه
وفى رواية: «حرام على مَن لم يعرف دليلي أن يفتى بكلامي «فإننا بشر، نقول القول اليوم ونرجع عنه غدًا

“Tidak halal bagi siapa pun mengambil pendapat kami tanpa mengetahui dari mana kami mengambilnya.” Dalam riwayat lain, beliau mengatakan, “Haram bagi siapa pun yang tidak mengetahui dalil yang saya pakai untuk berfatwa dengan pendapat saya. Karena sesungguhnya kami adalah manusia, perkataan yang sekarang kami ucapkan, mungkin besok kami rujuk (kami tinggalkan).”

✅Al-Imam Ahmad Bin Hambal Rahimahulloh( Madzab Hambali mengatakan):

لا تقلدني، ولا تقليد مالكًا ولا الشافعي ولا الأوزاعي ولا الثوري، وخذ من حيث أخذوا

“Janganlah kalian taklid kepada saya dan jangan taklid kepada Malik, asy-Syafi’i, al-Auza’i, ataupun (Sufyan) ats-Tsauri. Tapi ambillah (dalil) dari mana mereka mengambilnya.”

3.Taklid kepada ucapan  orang yang tidak jelas sumbernya ( Katanya-Katanya)

✅Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. [Al-Isra’ :36]

✅Rasul Shalallahu ‘alaihi Wassalam bersabda :

«إِنَّ اللهَ يَكْرَهُ لَكُمْ: قِيْلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ»

“Sesungguhnya Allah membenci untuk kalian qiila wa qoola (katanya katanya), banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta.”
(Riwayat Imam Muslim )

✅Beliau juga bersabda:

« كَفَى بِالْمَرْءِ إثْمًا : أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ»

“Cukuplah bagi seseorang itu berdosa, jika dia menceritakan segala perkara yang dia dengar.” (HR. Muslim)

✅Imam Nawawi rahimhullah berkata:

اعْلَمْ أنَّهُ يَنْبَغِي لِكُلِّ مُكَلَّفٍ أنْ يَحْفَظَ لِسَانَهُ عَنْ جَميعِ الكَلامِ إِلاَّ كَلاَماً ظَهَرَتْ فِيهِ المَصْلَحَةُ، ومَتَى اسْتَوَى الكَلاَمُ وَتَرْكُهُ فِي المَصْلَحَةِ فالسُّنَّةُ الإمْسَاكُ عَنْهُ؛ لأَنَّهُ قَدْ يَنْجَرُّ الكَلاَمُ المُبَاحُ إِلَى حَرَامٍ أَوْ مَكْرُوهٍ.

“Ketahuilah bahwa sudah selayaknya bagi setiap orang yang mukallaf untuk menjaga lisannya dari seluruh ucapan kecuali ucapan yang tampak padanya suatu kemashlahatan. Maka kapan saja berucap dan meninggalkan ucapan itu sama kemashlahatannya, maka yang sunnah adalah menahan diri dari berucap. Dikarenakan, ucapan yang mubah terkadang mendorong kepada yang haram atau makruh.

✅Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menceritakan keadaan orang – orang kafir dan munafiq yang hanya sekedar ikut-ikutan tanpa dasar ilmu, mereka menderita dialam kubur :

فَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُولُ: لَا أَدْرِي، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ. فَيَقُولَانِ: لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ. ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَاقٍ مِنْ حَدِيدٍ بَيْنَ أُذُنَيْهِ فَيَصِيحُ فَيَسْمَعُهَا مَنْ عَلَيْهَا غَيْرُ الثَّقَلَيْنِ

“Adapun orang kafir atau munafik, maka kedua malaikat tersebut bertanya kepadanya: “Apa jawabanmu tentang orang ini (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam)?” Dia mengatakan: “Aku tidak tahu. Aku mengatakan sebagaimana apa yang dikatakan orang-orang.” Maka kedua malaikat itu mengatakan: “Engkau tidak tahu? Engkau tidak membaca? ” Kemudian ia dipukul dengan palu dari besi, tepat di wajahnya. Dia lalu menjerit dengan jeritan yang sangat keras yang didengar seluruh penduduk bumi, kecuali dua golongan: Jin dan Manusia.” (Muttafaqun ‘alaih)

CATATAN UNTUK KITA SEMUA :

Ini adalah nasehat buat kita semua agar setiap orang yang beriman senantiasa mengedepankan serta mengagungkan perintah Alloh dan rosul-Nya , Dan larangan taqlid buta (bersikukuh mengekor) dengan pendapat orang yang dia cintai walaupun dari bapak-bapaknya, saudaranya, atau kyai-kyainya(ustadznya) yang mereka telah menyelisihi sunnah serta menyelisihi jalanya para ulama salaf yang kokoh lagi terpercaya dalam manhajnya. Wallohu A’lam bishshawab.

Akhukum Fillah Al Ustadz Abu Amina Aljawiy حفظه الله تعالى    
Dipondok Yatim non Yatim Annashihah Cepu

Dikutip dari Lisanul Arab, Alquran Alkarim, Raudhatun Nadhzir, Tafsir Ibnu Katsir, Shahih Imam Ahmad, Alfirqotun Najiyah. Syarah masail jahiliyah Syaikh Fauzan Rahimahumullah._

Ayo bergabung dengan : https://t.me/pesantren_salaf_online

Bagikan Ini: